TEMULAWAK SEBAGAI ANTIOKSIDAN PELINDUNG LAMBUNG

TEMULAWAK SEBAGAI ANTIOKSIDAN PELINDUNG LAMBUNG
by admin

Gastritis (penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan inflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati.

Gejala Gastritis: adhesi neutrofil pada endotel

Gejala yang terjadi yaitu perut terasa perih dan mulas. Rusaknya mukosa lambung dapat terjadi akibat penghambatan sintesis prostaglandin. Prostaglandin ini berfungsi sebagai sitoprotektif, kadarnya yang menurun dapat menimbulkan ketidakseimbangan faktor agresif (asam lambung dan pepsin) dan faktor defensif (mukus dan bikarbonat, aliran darah dan regenerasi epitel). Keadaan tersebut dapat menimbulkan adhesi neutrofil pada endotel pembuluh darah akibat proses inflamasi yang dapat mengakibatkan pelepasan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan mukosa lambung.

Penyebab umum gastritis adalah Helicobacter pylori, stres dan beberapa jenis obat. Helicobacter plyori, merupakan bakteri gram negatif, mikroaerofilik yang umumnya hidup dan berkembang biak di dalam lambung. Kolonisasi bakteri ini secara tipikal adalah awalnya menginfeksi bagian antrum gaster, menyebabkan inflamasi dengan intensitas yang tinggi dan bila berlangsung bertahun-tahun, akan menyebar ke seluruh lapisan mukosa lambung Bila berlanjut, akan mengakibatkan gastritis menjadi kronis dan membentuk ulkus, disebut dengan istilah gastric ulcer, atau peptic ulcer atau ulkus peptikum. Orang-orang yang terinfeksi bakteri ini 80 % nya asimptomatik atau tidak bergejala sehingga penyakit ini umumnya ditemukan hanya kebetulan dalam pemeriksaan endoskopi atau sudah terlambat menjadi gastritis kronis. Infeksi bakteri ini biasanya didapat saat usia anak melalui rute transmisi oral-fekal. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS/ NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, naproxen juga dapat menyebabkan efek samping obat berupa iritasi lapisan mukosa lambung. Iritasi yang berlangsung lama akan berlanjut dengan erosi jaringan lambung yang dapat menyebabkan perdarahan lambung.

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) termasuk famili Zingiberaceae dengan bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang dan merupakan tanaman asli Indonesia. Temulawak banyak ditemukan terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Rimpang temulawak ini mengandung antioksidan yang dapat mencegah terjadinya kerusakan sel pada mukosa lambung akibat radikal bebas sebagai bahan sampingan fagositosis contohnya pada pemakaian aspirin yang berkepanjangan. Komponen senyawa yang bertindak sebagai antioksidan dari rimpang temulawak adalah flavonoid, fenol dan kurkumin. Antioksidan intraselular seperti glutation melindungi mukosa lambung dari stres oksidatif akibat fagositosis. Ketika sistem pertahanan antioksidan tidak mencukupi, radikal bebas menyebabkan kerusakan membran sel, kerusakan oksidatif dan kematian sel juga terjadi terus-menerus.

Aktivitas antioksidan flavonoid, kurkumin dan fenol efisien dalam menjebak anion superoksida (O2.), radikal hidroksil (OH.), peroksil (ROO.) dan alkoksil (RO.) yang terbentuk dari hasil sampingan aktivitas fagositosis. Selain itu, flavonoid juga menstabilisasi membran dan mempengaruhi beberapa proses metabolisme intermediet serta menginhibisi peroksidasi lipid. Flavonoid dapat meningkatkan kandungan prostaglandin mukosa dan mukus di mukosa lambung dengan menstimulasi COX-1, menunjukkan efek sitoprotektif, mengurangi sekresi asam mukosa, serta inhibisi produksi pepsinogen.

Konsumsi aspirin dapat menaikkan kadar TNF-α karena hambatan dari COX-2. TNF-α berfungsi dalam induksi intercellular adhesion molecule 1 (ICAM1), dimana molekul ini berfungsi untuk menambah perlekatan neutrofil pada sel endotel pembuluh darah. Apabila terjadi ekstravasasi neutrofil maka aktivasi neutrofil akan menginduksi pembentukan radikal bebas dari hasil fagositosis. Kurkumin yang dikandung temulawak selain mengandung senyawa fenolik, juga memiliki aktifitas menekan pembentukan NF-kB yang merupakan faktor transkripsi sejumlah gen penting dalam proses imunitas dan inflamasi, salah satunya untuk membentuk TNF-α. Dengan menekan kerja NF-kB maka radikal bebas dari hasil sampingan inflamasi berkurang.

Temulawak aman untuk digunakan dengan dosis hingga 5g/kg tanpa tanda-tanda toksisitas. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang Temulawak pada dosis 800 mg/kgBB merupakan dosis yang efektif sebagai anti-tukak lambung.

 

REFERENSI

  1. Chattopadhyay I, Bandyopadhyay U, Biswas K, Maity P, Banerje RK. 2006. Indomethacin inactivates gastric perixidase to induce reactive-oxygen-mediated gastric mucosal injury and curcumin protects it by preventing peroxidase inactivation and scavenging reactive oxygen. Free Radical Biol Med. 40: 1397-408.
  2. Das K and Roy C. 2012. The protective role of eagle marmelos on aspirin-induced gastroduodenal ulceration in albino rat model: a possible involvement of antioxidants. Saudi J Gastroenterol. 18: 184-94.
  3. Jayaprakasha GK, Jaganmohan RL, Sakariah KK. 2006. Antioxidant activities of curcumin, demethoxycurcumin and bisdemethoxycurcumin. Food Chemistry. 98: 720-24.
  4. Stolte, M. and A. Meining, The updated Sydney system: classification and grading of gastritis as the basis of diagnosis and treatment. Can J Gastroenterol, 2001. 15(9): p. 591-8.
  5. NIH. Gastritis. July 2015; Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/gastritis.
  6. Lacasa CI, Villegas CA, Lastra T, Motilva MJM, Calero. 2000. Evidence for protective and antioksidant properties of rutin, a natural flavone, against ethanol induced gastric lesions. J Ethnopharmacol. 71: 45-53.
  7. Prana MS. 2008. Beberapa aspek biologi temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Bogor: Biofarmaka IPB. hlm. 45.
  8. Repetto MG and Llesuy SF. 2002. Antioxidant properties of natural compounds used in popular medicine for gastric ulcer. Braz J Med Biol Res. 35(5): 523-34.
  9. Robbins SL, Cotran RS, Kumar V. 2007. Buku ajar patologi edisi ke-7. Jakarta: EGC. 1(15): 609- 63.
  10. Wahyudi A. 2006. Pengaruh penambahan kurkumin dari rimpang temugiring pada aktifitas antioksidan asam askorbat dengan metode FTC. Surabaya: Akta Kimindo. 2(1): 37-40.
  11. Wijayakusuma M. 2007. Penyembuhan dengan temulawak. Jakarta: Sarana Pustaka Prima. hlm. 23-7.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *