CHERAL: Solusi Terbaik Bagi Penderita Kanker

CHERAL: Solusi Terbaik Bagi Penderita Kanker
by admin

Kanker adalah penyakit yang terjadi karena pembelahan sel yang tidak terkontrol dan tidak terbatas, kelompok sel tersebut dengan mendadak menjadi liar dan memperbanyak diri secara pesat dan terus menerus (proliferasi) membentuk jaringan baru yang abnormal dan bersifat ganas (maligne). Dengan demikian kanker merupakan suatu penyakit dengan ciri gangguan atau kegagalan mekanisme pengatur multiplikasi dan fungsi homeostasis lainnya pada organisme multiseluler.

Kanker: pertumbuhan sel yang tak mengenal Apoptosis

Sel kanker tak mengenal program kematian sel yang dikenal dengan nama apoptosis. Apoptosis sangat dibutuhkan untuk mengatur berapa jumlah sel yang dibutuhkan dalam tubuh kita, yang mana semuanya fungsional dan menempati tempat yang tepat dengan umur tertentu. Bila telah melewati masa hidupnya, sel-sel normal (nonkanker) akan mati dengan sendirinya tanpa ada efek peradangan (inflamasi). Sel kanker berbeda dengan karakteristik tersebut. Sel kanker sangat “bandel”. Dia akan terus hidup meski seharusnya mati (Immortal).

Sel kanker tidak mengenal komunikasi ekstra seluler atau asosial. Komunikasi ekstra seluler diperlukan untuk menjalin koordinasi antar sel sehingga mereka dapat saling menunjang fungsi masing-masing. Dengan sifatnya yang asosial, sel kanker bertindak semaunya sendiri tanpa peduli apa yang dibutuhkan oleh lingkungannya. Sel kanker mampu menyerang jaringan lain (invasif), merusak jaringan tersebut dan tumbuh subur di atas “porak-porandanya” jaringan lain.

Untuk mencukupi kebutuhan pangan dirinya sendiri, sel kanker mampu membentuk pembuluh darah baru (neoangiogenesis) meski itu tentunya dapat mengganggu kestabilan jaringan tempat ia tumbuh. Sel kanker memiliki kemampuan “super hebat” dalam memperbanyak dirinya sendiri (proliferasi) meski seharusnya ia sudah tak dibutuhkan dan jumlahnya sudah melebihi kebutuhan yang seharusnya.

Sifat umum dari kanker yaitu tumbuh dan berkembang dengan cepat, bersifat invasif terhadap organ sekitarnya, bersifat metastatik dan memiliki heriditas bawaan yaitu turunan sel kanker juga dapat menimbulkan kanker. Pada sel yang abnormal tampak sel yang DNA kromosomnya sudah bermutasi dan mulai berkembang. Kemudian sel kanker tersebut mengirimkan sinyal kepada pembuluh darah sehingga ia dapat terus berkembang sekaligus menyebarkan sel kanker ke organ tubuh lainnya melalui saluran peredaran darah. Sel kanker baru kemudian bersatu dengan sel yang sehat kemudian membesar dan demikian seterusnya siklus perkembangannya.

Kanker sering dikenal sebagai tumor, tetapi tidak semua tumor disebut kanker. Masyarakat awam terkadang masih menyalah artikan pengertian tumor dan kanker adalah sama, padalah kedua penyakit ganas ini ternyata berbeda. Tumor merupakan satu sel liar yang berada di bagian tubuh dan terus membesar di lokasi yang tetap atau tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Akibatnya, terdapat benjolan di bagian tubuh tertentu. Karena itu, munculnya benjolan di bagian tubuh tertentu, baik disertai rasa sakit maupun tidak patut diwaspadai sebagai tumor. Jika tidak diobati secara benar sel tumor bisa berubah menjadi kanker.

Dalam keadaan normal, sel tubuh hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya, sel kanker akan terus membelah walaupun tubuh tidak memerlukannya. Akibatnya, akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas (maligna). Penumpukan sel baru tersebut akan mendesak dan merusak jaringan normal sehingga mengganggu organ yang ditempatinya.

Substansi yang menyebabkan kanker atau meningkatkan resiko timbulnya kanker yang terjadi karena ketidakstabilan genomik atau gangguan pada proses metabolisme seluler disebut karsinogen. Setelah karsinogen masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan melakukan upaya-upaya untuk menghilangkannya yang disebut proses biotransformasi. Tujuan dari reaksi ini adalah membuat karsinogen menjadi lebih larut air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh. Tetapi, reaksi ini juga bisa merubah suatu senyawa karsinogen yang sebenarnya tidak terlalu toksik menjadi senyawa baru yang lebih toksik. Kanker berkembang melalui serangkaian proses yang disebut karsinogenesis. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa kanker bukanlah penyakit “langsung jadi” melainkan penyakit yang timbul akibat akumulasi atau penumpukan kerusakan-kerusakan tertentu dalam tubuh kita. Faktor penyebab kanker yaitu biologis, lingkungan, makanan dan psikologis.

Proses pembentukan kanker atau karsinogenesis merupakan sekumpulan perubahan pada sejumlah gen yang terlibat dan berperan dalam sistem sinyal sel, pertumbuhan, siklus sel, differensiasi, angiogenesis, dan respon atau perbaikan terhadap kerusakan pada DNA. Perubahan pada sejumlah gen ini dapat berupa:

  1. Mutasi gen atau perubahan susunan pada DNA yang menyebabkan terjadinya perubahan fungsi suatu gen, seperti proto-onkogen menjadi onkogen.
  2. Mutasi atau dilesi DNA yang menyebabkan hilangnya fungsi suatu gen, seperti gen penekan tumor (tumor suppressor gene).

Gen terbentuk dari tiga pasangan base nukleotida (triplet) yang merupakan kode genetik. Gen terdapat dalam kromosom atau DNA yang mengandung kode genetik yang spesifik untuk suatu makhluk hidup. Terdapat bermacam-macam gen yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri yaitu:

  1. Proto-onkogen adalah gen yang mengkode dan mengatur pembentukan protein untuk pertumbuhan.
  2. Gen yang menghambat pertumbuhan disebut gen supresor.
  3. Gen yang bertugas memperbaiki DNA yang rusak atau gen DNA repair.
  4. Gen yang mengatur kematian sel terprogram/apoptosis.

Diagnosis penyakit kanker

Diagnosis penyakit kanker meliputi 2 bagian penting yaitu deteksi dini dan penentuan stadium. Deteksi dini meliputi wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, rontgent, biopsi, MRI dan CT Scanning. Sedangkan penentuan stadium dilakukan dengan metode scanning. pewarnaan jaringan, CT atau MRI, meidastinoscopy, biopsi sumsum tulang dan Mass Spectrometry Imaging. Terapi pada penyakit kanker meliputi terapi lokal (operasi dan radiasi) dan terapi sistemik (antineoplastik kemoterapi, hormonal terapi dan immunoterapi).

Pada kenyataannya secara umum biasanya digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan di atas, misalnya pembedahan yang diikuti oleh kemoterapi atau radioterapi, bahkan kadang pengobatan digunakan dengan 3 kombinasi (pembedahan, kemotarapi dan radioterapi). Pada dasarnya tujuan utama dari pembedahan adalah mengangkat kanker secara keseluruhan karena pasien kanker memiliki harapan hidup lebih besar apabila belum menjalar ketempat lain. Sedangkan kemoterapi dan radiasi tidak bukan dan tidak lain bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang masih tertinggal.

Kemoterapi

Kemoterapi (bahasa Inggris: chemotherapy) adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini hampir merujuk secara eksklusif kepada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker. Sitostatika adalah suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker. Dalam penggunaaan selain kanker, istilah ini dapat juga menunjuk ke antibiotik (kemoterapi antibakteri). Dalam artian tersebut, agen kemoterapi modern pertama adalah arsfenamin Paul Ehrlich, sebuah senyawa arsenik yang ditemukan pada 1909 dan digunakan untuk merawat sifilis. Ini kemudian diikuti oleh sulfonamida ditemukan oleh Gerhard Domagk dan penisilin G ditemukan oleh Alexander Fleming. Penggunaan lain dari agen kemoterapi sitostatik adalah perawatan penyakit autoimun dan penekanan transplant rejection.

Karena pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan dari satu jenis sitostatika, maka seiring perkembangannya kini kemoterapi umumnya dipergunakan dalam kombinasi sitostatika atau disebut regimen kemoterapi, sebagai usaha untuk mendapatkan khasiat yang lebih besar. Penggunaan obat-obatan baik tunggal maupun kombinasi ini telah melalui penyelidikan mendalam di berbagai pusat kesehatan di dunia. Semua manfaat (khasiat) serta dampak buruk beragam jenis kemoterapi yang sudah disahkan oleh badan regulasi kesehatan di Negara bersangkutan  akan menjadi suatu regimen standar, sedangkan bila masih dalam penelitian pengobatan kanker dan belum disahkan disebut sebagai regimen kemoterapi dalam uji klinik (clinical trial).

Intensitas efek samping kemoterapi tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian, maupun dosis kumulatif. Selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna. Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi sumsum tulang dan kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah, diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis. Mual dan muntah biasanya timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi 24 jam.

Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian sitostatika dapat terjadi segera atau kemudian. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tahan tubuh, trombositopenia dapat mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlebihan bila terjadi erosi pada traktus gastrointestinal.

Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan sampai pada kebotakan. Efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas, fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru.

Kardiomiopati akibat Doksorubin dan Daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian besar penderita meninggal karena “pump failure”. Fibrosis paru umumnya irreversible. Kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitostatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang dimetabolisir di dalam hati. Efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih mudah diatasi.

Jenis Kemoterapi

Tergantung jenisnya, kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan, tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh pasien, kondisi psikis, dan sebagainya. Efek samping kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan.

Kontraindikasi absolut kemoterapi adalah penyakit terminal (harapan hidup sangat pendek), kehamilan trimester pertama, septikemia dan koma. Kontraindikasi relatif adalah bayi di bawah 3 bulan, usia tua, terutama pada pasien dengan tumor yang tumbuh lambat dan kurang sensitif terhadap kemoterapi; status penampilan buruk (kurang dari 40), terdapat gagal organ yang parah, metastasis otak (jika tidak dapat diobati dengan radioterapi), demensia, pasien tidak dapat datang secara reguler, pasien tidak kooperatif serta jenis tumornya resisten terhadap obat antikanker.

Cheral sebagai alternatif mengobati kanker

Upaya penemuan obat kanker yang efektif dan selektif sebagai usaha pengobatan kanker secara kemoterapi menjadi sangat penting saat ini disamping pengobatan secara fisik seperti pembedahan dan radioterapi. Pada umumnya obat kanker yang berasal dari senyawa kimia sintetik bekerja tidak selektif karena memiliki mekanisme kerja merusak DNA tidak hanya pada sel kanker tetapi juga pada sel normal disekitarnya. Begitu banyaknya efek samping seperti yang telah diuraikan di atas jelas menggambarkan bahwa pengobatan kanker dengan kemoterapi kimia sangat menyiksa dan bahkan menyakiti pasien kanker itu sendiri, sehingga hal tersebutlah yang melatarbelakangi banyak ilmuan terus meneliti dan mencari obat-obatan kanker utamanya dari bahan-bahan alami/ herbal. Beragam penelitian terus dilakukan si seluruh penjuru dunia demi menemukan formula herbal terbaik untuk mengatasi kanker.

Meniran (Phyllantus niruri L.) mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai anti oksidan dan anti neoplastik (antikanker), senyawa lignin (quercetin, phyllantin dan turunannya) yang berfungsi sebagai anti neoplastik (antikanker) dan tanin yang dapat menghambat aktivasi enzim polimerase DNA dari virus Epstein Bars (Virus yang diduga sebagai virus penyebab kanker getah bening). Dalam beberapa studi hewan (serta dalam kultur sel), ekstrak meniran telah bermanfaat menghentikan atau menghambat mutasi sel (termasuk sel-sel hati). Penelitian lain menunjukan bahwa meniran mampu menghambat beberapa proses enzimatis yang berperan dalam replikasi dan pertumbuhan sel kanker.

Rimpang kunyit (Curcuma longa L.) mengandung kurkumin (kurkumin I, kurkumin II, dan kurkumin III), minyak atsiri (turmeron, felandren, zingiberen, borneol, dll.), desmetoksikurkumin dan tanin. Kurkumin merupakan bagian terbesar pigmen kuning yang terdapat dalam rimpang kunyit (Curcuma longa L.) yang memiliki berbagai aktivitas biologis sebagai anti oksidan, anti inflamasi dan anti neoplastik. Kurkumin mampu memproteksi plasmid pBR322 DNA terhadap pecahnya rantai tunggal DNA akibat induksi oleh singlet oksigen (sebuah spesies oksigen reaktif yang bersifat genotoksik dan mutagenik). Kurkumin juga poten sebagai inhibitor lipid peroksidase yang terinduksi berbagai agen selular atau asing.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kurkumin aktif dalam menghambat proses karsinogenesis pada tahap inisiasi dan promosi atau progresi. Kurkumin juga memiliki efek memacu proses apoptosis, menghambat proliferasi sel dan menginduksi perubahan siklus sel pada colon adenocarcinoma cell lines tanpa tergantung jalur prostaglandin. Selain itu kurkumin juga mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara manusia tanpa tergantung ekspresi reseptor estrogen.

Pathway Of Cheral:

Cheral® merupakan merk yang telah dipatenkan oleh PT. ISMUT FITOMEDIKA INDONESIA sebagai obat herbal kemoterapi pertama di dunia dengan komposisi 100 % bahan herbal natural tanpa efek samping kemoterapi yang menyiksa, memberikan klaim pengobatan kemoterapi jauh lebih baik melawan kanker dan keganasan sel dibandingkan obat kemoterapi kimia yang telah digunakan di dunia hingga saat ini. Obat ini memiliki komposisi bahan dengan dasar jurnal penelitian pendukung yang kuat sebagai sitostatika anti kanker terbaik.

REFERENSI

  1. Varmus H., Weinberg, R.A. Genes and the Biology of Cancer. New York: Scientific American Library, 1993.
  2. Ramer MR, Carroll D, Campbell FA, Reynolds DJ, Moore RA, McQuay HJ.Cannabinoids for control of chemotherapy induced nausea and vomiting: quantitative systematic review. BMJ 2001. PMID 11440936.
  3. R.J.B King. 1998, Cancer Biology, Prentice Hall. New York.
  4. Partridge A.H, et al. 2001 Side effect and Combined Chemohormonal Therapy in Women With Eraly Stage Breast Cancer. Journal of The Natural Cancer Institute Monograph No.30.
  5. Kardiman A. 2004. Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami. Jakarta: Agromedia Pustaka.
  6. Giribabu N, et al. 2014. Aqueous Extract of Phyllanthus niruri Leaves Displays In Vitro Antioxidant Activity. Hindawi Publishing Coorporation. Volume 2014 Reesearch Article.
  7. Paithankar V.V, et al. 2011. Phyllantus niruri: a magic herb. Research in Pharmacy 1(4):2011.
  8. Barsela G, et al. 2010. Curcumin as an Anti-Cancer Agent: Review of the Gap Between Basic and Clinical Applications. Department of Oncology and Radiation Therapy, Haifa Israel. Current Medical Chemistry 2010(17).
  9. Tokusoglu O, et al. 2015. Turmeric curcuminoid polyphenolics as antioxidant and anticarcinogenic agents. Natural Science and Discovery 2015:1(3).
  10. Donipati P, et al. 2015. In Vitro Anticancer Activity of Curcuma longa Against Human Breast Cancer Cell Line MCF-7. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. Volume 4, Issue 11, Research Article.
  11. Hatcher H, et al. 2008. Curcumin: From ancient medicine to current clinical trials. Cell. Mol. Life Sci 65 (2008) 1631-1652.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *